Pelajari penyebab burr pada hasil press (stamping) dan cara mencegahnya melalui kontrol dies, clearance, setting press, material, lubrication, serta inspeksi dan maintenance yang tepat.
Burr adalah salah satu defect paling umum pada proses press/stamping, khususnya pada proses blanking, piercing, trimming, dan punching. Walaupun terlihat “kecil”, burr bisa jadi masalah besar karena:
- membuat part tajam dan berbahaya
- mengganggu proses assembly
- menyebabkan NG pada dimensi/fitment
- menambah cost deburring atau rework
- menurunkan kualitas finishing (painting/plating)
Yang sering terjadi di lapangan, burr dianggap “normal” dan dibiarkan—padahal burr biasanya adalah tanda bahwa ada yang tidak optimal pada dies, clearance, setting, atau material.
Artikel ini akan membahas penyebab burr pada hasil press dan cara mencegahnya secara praktis, mulai dari faktor tooling sampai handling dan inspeksi.
1. Apa Itu Burr dan Kenapa Bisa Terjadi?
Burr adalah sisa material tajam atau tonjolan kecil di tepi hasil potongan press. Burr terbentuk karena proses pemotongan tidak terjadi secara clean; ada bagian material yang “sobek” atau “tertarik” sebelum benar-benar terputus.
Secara umum, burr muncul ketika:
- cutting edge sudah aus
- clearance tidak tepat
- alignment punch-die tidak presisi
- material atau pelumasan tidak sesuai
- parameter press menyebabkan gaya potong tidak stabil
2. Penyebab Utama Burr pada Hasil Press
Berikut penyebab yang paling sering terjadi, lengkap dengan efeknya:
A. Cutting Edge Dies / Punch Sudah Aus atau Tumpul
Ini penyebab nomor satu. Ketika punch atau die edge tumpul, proses potong menjadi lebih mirip “menghancurkan” daripada memotong. Akibatnya:
- material lebih banyak deform daripada shear
- tepi jadi kasar
- burr menjadi lebih tinggi dan tidak konsisten
Tanda-tandanya:
- burr makin tinggi seiring jam produksi
- suara press berubah jadi lebih berat
- hasil potong mulai terlihat “robek”
B. Clearance Punch dan Die Tidak Sesuai
Clearance adalah jarak antara punch dan die. Clearance terlalu besar atau terlalu kecil bisa sama-sama menyebabkan burr.
- Clearance terlalu besar: burr besar, tepi sobek, kualitas shear buruk
- Clearance terlalu kecil: beban press tinggi, die cepat rusak, burr tetap bisa muncul karena galling atau chipping
Clearance yang ideal tergantung:
- jenis material
- ketebalan material
- jenis proses (blanking/piercing)
C. Misalignment / Centering Punch-Die Tidak Presisi
Jika punch dan die tidak sejajar (offset), potongan tidak merata. Akibatnya:
- salah satu sisi menghasilkan burr lebih tinggi
- terjadi wear tidak merata
- risiko chipping pada edge
Misalignment bisa terjadi karena:
- guide post/bushing aus
- setup tidak presisi saat pasang dies
- press ram tidak parallel
- bolster plate tidak rata
D. Die Set atau Guide System Aus (Guide Post/Bushing)
Guide system yang aus membuat dies “bermain” saat stroke berjalan. Ini menghasilkan:
- variasi clearance sepanjang proses
- burr tidak konsisten antar part
- edge wear makin cepat
Sering kali masalah burr tidak selesai walaupun dies sudah diasah, karena akar masalahnya adalah die set yang tidak stabil.
E. Material Bermasalah (Kekerasan, Ketebalan, atau Permukaan)
Material yang tidak konsisten bisa menyebabkan burr meskipun dies bagus.
Contoh kondisi material yang memicu burr:
- thickness variation (ketebalan berubah-ubah)
- material lebih keras dari spec
- permukaan ada kontaminasi, karat, atau scale
- grain direction yang tidak sesuai untuk proses tertentu
Material yang keras atau terlalu tebal akan meningkatkan beban potong dan mempercepat tumpulnya punch.
F. Lubrication Tidak Tepat (Kurang atau Salah Jenis)
Pelumasan yang buruk meningkatkan friction, menyebabkan:
- galling (material menempel di punch/die)
- tearing dan edge yang tidak clean
- burr naik dan permukaan rusak
Lubrication juga memengaruhi stabilitas proses, terutama pada part yang punya forming dan cutting dalam satu dies.
G. Parameter Press Tidak Stabil (Tonnage, Speed, dan Shock)
Jika setting press tidak stabil atau terlalu agresif:
- gaya potong tidak smooth
- timbul getaran / shock pada tooling
- edge lebih cepat aus
- burr muncul lebih cepat
Hal yang perlu diperhatikan:
- tonnage cukup dan sesuai
- stroke dan speed tidak terlalu tinggi untuk material tebal
- kondisi press tidak menimbulkan vibration berlebih
H. Stripper Pressure atau Hold-Down Tidak Optimal
Stripper yang kurang efektif bisa membuat material bergerak atau terangkat saat dipotong. Akibatnya:
- tepi potong tidak stabil
- hasil sobek
- burr meningkat terutama pada piercing
Stripper system yang baik membantu material tetap “flat” dan terkunci saat shear terjadi.
3. Cara Mencegah Burr: Solusi Praktis dari Hulu ke Hilir
Sekarang kita masuk ke langkah pencegahan yang paling efektif.
1) Jadwalkan Sharpening dan PM Dies Secara Konsisten
Jangan tunggu burr tinggi baru diasah. Buat jadwal:
- sharpening berdasarkan jumlah stroke atau jam produksi
- inspeksi edge berkala
- dokumentasi hasil burr per lot
Burr adalah indikator wear. Jika kamu punya data tren burr, kamu bisa menentukan interval maintenance yang optimal.
2) Pastikan Clearance Sesuai Ketebalan dan Jenis Material
Checklist penting:
- verifikasi clearance sesuai standard proses
- gunakan shim atau adjustment yang konsisten
- hindari “trial manual” tanpa catatan
- dokumentasikan perubahan clearance
Clearance yang benar bisa menurunkan burr secara signifikan tanpa perlu modifikasi besar.
3) Cek Alignment dan Guide System
Kalau burr tinggi hanya di satu sisi, kemungkinan besar masalahnya alignment.
Yang perlu dicek:
- guide post dan bushing (apakah aus)
- parallelism press ram
- die seating dan clamp
- kondisi bolster plate
Perbaikan alignment sering mengatasi burr yang “bandel” dan tidak selesai hanya dengan sharpening.
4) Kontrol Material dengan Incoming Inspection
Material handling dan kontrol incoming penting untuk menjaga proses stabil:
- sampling thickness
- cek hardness jika perlu
- pastikan permukaan bersih
- pisahkan material NG atau lot bermasalah
Jika ada perubahan supplier atau lot, catat dan bandingkan tren burr untuk deteksi dini.
5) Optimalkan Lubrication
Langkah sederhana tapi berdampak besar:
- pastikan nozzle tidak tersumbat
- pastikan distribusi pelumas merata
- gunakan jenis lubricant sesuai proses (cutting + forming)
- jangan terlalu sedikit atau terlalu banyak
Lubrication yang tepat mencegah galling dan memperpanjang umur cutting edge.
6) Stabilkan Parameter Press
Beberapa tindakan yang bisa dilakukan:
- set tonnage sesuai kebutuhan, jangan under/over
- sesuaikan speed agar tidak menimbulkan shock
- cek kondisi press (vibration, backlash)
- lakukan setup dengan “golden parameter” yang terdokumentasi
Press yang stabil membantu dies bekerja lebih konsisten dan mengurangi burr.
7) Perkuat Inspeksi: Deteksi Burr Sebelum Jadi Scrap Massal
Buat sistem inspeksi sederhana:
- first piece check setelah setup
- periodic check per interval waktu atau jumlah part
- gunakan gauge atau alat ukur burr jika tersedia
- catat hasil dalam log sheet
Semakin cepat burr terdeteksi, semakin kecil scrap dan downtime yang terjadi.
4. Cara Cepat Menemukan Akar Burr (Troubleshooting Simple)
Kalau burr muncul, kamu bisa lakukan diagnosis cepat:
- Burr meningkat perlahan seiring produksi → kemungkinan edge aus
- Burr tinggi di satu sisi saja → kemungkinan misalignment / guide aus
- Burr muncul mendadak setelah ganti material → kemungkinan material hardness/thickness berubah
- Burr disertai scratch atau material menempel → kemungkinan lubrication buruk / galling
- Burr tidak konsisten antar part → kemungkinan die set tidak stabil atau press vibration
Dengan pola ini, tim bisa lebih cepat menentukan tindakan tanpa trial yang berulang.
Kesimpulan
Burr pada hasil press bukan sekadar masalah kosmetik, tetapi sinyal bahwa proses pemotongan tidak optimal. Penyebab paling umum biasanya berasal dari cutting edge yang aus, clearance yang tidak sesuai, misalignment punch-die, guide system yang aus, material yang tidak konsisten, pelumasan yang kurang tepat, serta parameter press yang tidak stabil.
Untuk mencegah burr, kunci utamanya adalah kombinasi: preventive maintenance dies, kontrol clearance dan alignment, kontrol material, optimasi lubrication, serta inspeksi berkala agar masalah terdeteksi sebelum menjadi scrap massal.
Dengan pendekatan ini, burr bisa ditekan, kualitas part meningkat, dan biaya rework/deburring bisa berkurang secara signifikan.
Baca juga :